Rabu, 06 September 2017

Misteri dan Keangkeran Jembatan Eretan, Indramayu

Bagi masyarakat Indramayu, pasti tak asing mendengar jembatan tua bernama Jembatan Eretan. Jembatan ini masuk dalam daftar bangunan tua karena dulunya dibangun pada masa penjajahan Jepang. Bagi masyarakat Eretan, jembatan tersebut merupakanjembatan angker yang sedari dulu sering menelan korban jiwa.

Kecelakaan yang sering terjadi di tempat angker di Indramayu ini rata-rata adalah kendaraan berkecepatan tinggi. Bagi masyarakat di sana, cepatnya kendaraan yang melintas di sana bukanlah sebuah keputusan yang baik karena hendaknya mereka “permisi” terlebih dahulu kepada penunggu di sana. Karena ketika “mereka” merasa terganggu, tak segan kendaraan yang lewat akan dibuat celaka.

Oleh karena itu, pengendara yang sering lewat Jembatan Eretan memilih untuk berkendara aman dan menyalakan klakson beberapa kali sebagai tanda berpamitan kepada penunggu di sana. Memang tak jauh dari Jembatan Eretan angker ada pemakaman kecil yang diyakini asal muasal penunggu di sana.

Misteri Jembatan Eretan dulu agaknya berbeda dengan sekarang. Ketika jalanan dulu belum seramai sekarang, banyak becak yang sering berlalu-lalang mengantar penumpang menyebrangi jembatan. Kejadian seram terjadi ketika malam hari dan sering menimpa tukang becak yaitu saat akan melintas jembatan, mereka akan mendapati penumpang yang minta diantarkan ke tempat tujuan.
 
Tanpa ragu, tukang becak mengantarkan penumpang sesuai tujuan. Namun ketika sampai di tempat, tiba-tiba saja penumpang menghilang dan tukang becak berada di area kuburan. Padahal para tukang becak yang pernah menjadi korban mengaku bahwa yang dilihatnya pertama adalah deretan rumah tapi setelah penumpang turun, keadaan berubah.
Misteri Jembatan Eretan masih dipercaya hingga kini. Oleh karena itu, para pengendara yang akan lewat di sana hendaknya mengurangi kecepatan dan menyalakan klakson. Jika Anda penasaran seberapa angker jembatan tersebut, silakan langsung ke lokasi berikut.


Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria 



Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan

08129358989 - 08122908585



Babad Mentaok

Bangunan  Saksi Alas Mentaok
Mentaok merupakan sebuah alas (hutan) lebat yang tidak perpenghuni, masuk wilayah kekuasaan kerajaan Pajang dengan penguasanya adalah Sultan hadiwijoyo atau yang lebuh dikenal dengan sebutan Joko Tingkir. Berdasarkan pitutur, Alas Mentaok   diberikan oleh Sultan Hadiwijoyo (Raja Pajang) kepada Ki Ageng Pemanahan tidak secara cuma-cuma, namun diberikan sebagai hadiah sayembara dari Sultan Hadiwijoyo tentang siapa saja yang berhasil membunuh Aryo Penangsang (Adipati Jipang Panolan), seorang yang terkenal sakti karena merupakan anak angkat dan murid kesayangan dari Sunan Kudus, maka kemudian terjadi perang tanding antara Danang Sutowijoyo (anak Ki Ageng Pemanahan, yang pada saat perang tanding masih berumur sekitar 15 tahun) dengan Aryo Penangsang di pinggir sungai bengawan sore, selanjutnya perang tanding tersebut berhasil dimenangkan oleh Danang Sutowijoyo, dengan terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Danang Sutowijoyo dengan menggunakan tombak Kyai Pleret (tombak pemberian dari Sunan Kalijogo, sesaat sebelum Danang Sutowijoyo berangkat perang tanding melawan Aryo Penangsang). Kemudian disusunlah strategi oleh Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Mertani dan Ki Penjawi, sehingga kemudian Sultan Hadiwijoyo memberi Ki Penjawi Kadipaten Pati dan Ki Ageng Pemanahan diberi bumi Hutan Mentaok. (Danang Sutowijoyo kecilnya bernama Bagus  Srubut, kemudian setelah diangkat anak oleh Sultan Hadiwijoyo, maka Sultan Hadiwijoyo memberi nama Danang Sutowijoyo)

Perjuangan belum selesai, karena setelah Sultan Hadiwijoyo memberikan bumi Pati kepada Ki Penjawi, bumi Hutan Mentaok setelah beberapa tahun belum juga diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan sempat kecewa dengan sikap Sultan Hadiwijoyo tersebut, yang terpengaruh oleh ramalan Sunan Giri bahwa jika bumi Hutan Mentaok diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan, maka bumi Hutan Mentaok akan menjadi sebuah kerajaan besar, yang akan menurunkan raja-raja di tanah jawa. Selanjutnya atas bantuan Sunan Kalijogo maka kemudian bumi Hutan Mentaok akhirnya diberikan oleh Sultan Hadiwijoyo kepada Ki Ageng Pemanahan.  

Setelah Ki Ageng Pemanahan (kecilnya bernama Bagus Burhan) diberi hadiah ‘Tanah Perdikan’ Alas Mentaok (Hutan Mentaok) oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo (Raja Pajang), maka kemudian pada tahun 1556 Masehi, Ki Ageng Pemanahan mulai membangun Hutan Mentaok dan menjadi sebuah pemukiman Desa Mataram, yang berada disekitar ‘pohon beringin putih’ yang ditanam Sunan Kalijogo (sekarang pohon beringin putih tersebut, letaknya berada didepan Masjid Agung Kotagede), sesuai amanah dan pesan dari Sunan Kalijogo.

Ki Ageng Pemanahan atau Ki Gede Pemanahan atau Ki Ageng Mataram adalah putra dari Ki Ageng Henis (Ki Ageng Nis). Ki Ageng Henis adalah putra dari Ki Ageng Selo (kecilnya bernama Bagus Sunggam).

Ki Ageng Pemanahan menikah dengan ‘sepupunya sendiri’, yakni Nyai Sabinah, putri dari Nyai Ageng Saba. Bahwa Nyai Ageng Saba adalah kakak kandung dari Ki Ageng Henis. Selanjutnya Ki Ageng Pemanahan menurunkan Bagus Srubut atau Danang Sutowijoyo atau setelah menjadi Raja Mataram dengan gelar adalah Wong Agung Ngeksigondo atau Senopati Loring Pasar. Dan setelah menjadi Raja Pertama Mataram mempunyai gelar Panembahan Senopati Ing Ngalogo Khalifatullah Syayiddin Panotogomo. Kraton Panembahan Senopati yang bertahta di Kota Gede (daerah sebelah selatan kota Yogyakarta).

Kemudian setelah Panembahan Senopati wafat digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang, yang setelah diangkat menjadi Raja bergelar Panembahan Hanyakrawati. Kraton Panembahan Hanyakrawati berada di Kota Gede. Panembahan Hanyakrawati meninggal pada saat berburu di hutan krapyak, sehingga mendapat julukan Panembahan Seda Krapyak.  Pada saat itu, posisi Putra Mahkota yakni Mas Rangsang sedang tidak berada di Kraton Kota Gede. Maka kemudian untuk mengisi jabatan Raja dan supaya tidak menimbulkan instabilitas (kekacauan politik), maka Joko Umbaran atau Pangeran Purboyo (anak dari Panembahan Senopati dengan Rara Lembayung. Rara Lembayung adalah anak dari Ki Ageng Giring) mempunyai inisiatif untuk mengisi sementara jabatan Raja Mataram. Kemudian Pangeran Purboyo memerintahkan untuk segera menjemput Mas Rangsang dari Padepokan Jalasutro Bayat. Padepokan Jalasutro Bayat dipimpin oleh Sunan Bayat. Bahwa Sunan Bayat adalah murid Sunan Kalijogo, yang sebelumnya menjadiAdipati Semarang.

Istana Air, Kota Gede
Kemudian setelah Mas Rangsang berada di Kraton Mataram Kota Gede, maka kemudian Mas Rangsang diangkat oleh Pangeran Purboyo menjadi Sultan Mataram dengan gelar Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusumo Senopati Ing Ngalogo Khalifatullah Syayiddin Panotogomo. Kemudian Sultan Agung memindahkan Kraton Mataram dari Kota Gede kedaerah Kerto (sebelah barat Pleret). Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, perkembangan Kerajaaan Mataram mengalami kemajuan pesat, baik dari sisi ekonomi, kemiliteran maupun seni dan budaya. Bahkan dari sejarah, maka satu-satunya sultan atau raja yang berani menyerang VOC sampai langsung ke Batavia adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo saja. Dan dari dokumen-dokumen rahasia yang disimpan di Museum Belanda, sebenarnya saat itu VOC hampir saja kalah. Namun demikian, VOC sama sekali tidak pernah menyerang Sultan Agung sampai langsung ke Kerto (pusat kerajaan Mataram era Sultan Agung Hanyokrokusumo).


Trahing Kusumo Rembesing Madu, Hamemayu Hayuning Bawono.
Ya Alloh.. Penuhilah dan cukupkanlah apa yang menjadi cita-cita dan kebutuhanku beserta seluruh anak cucuku sampai akhir jaman.
Amin Yaa Robbal Alamiin.


Pendirian Kerajaan Mataram Kotagede Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari peran serta dan perjuangan dari Sunan Kalijogo, yang setelah sekian lama membentuk persekutuan “Jolosutro” sebagai “suatu wadah secara diam-diam” dari keturunan-keturunan dan laskar-laskar Majapahit yang bermukim di pedalaman-pedalaman sebelah tengah bagian selatan pulau jawa, yang dipimpin oleh Sunan Bayat yang bertempat tinggal di puncak Gunung Jabalkat-daerah Tembayat (salah satu tempat di wilayah Kabupaten Klaten), pasca berdirinya Kerajaan Demak Bintoro oleh Raden Patah (nama kecilnya Jin Bun). Maka kemudian eksistensi Sunan Bayat tidak disukai oleh Kerajaan Demak Bintoro, bahkan masjid yang didirikan Sunan Bayat di puncak Gunung Jabalkat, atas perintah dari Kerajaan Demak Bintoro harus diturunkan ke sekitar bawah Gunung Jabalkat.

Bukan tidak mungkin, jika sebenarnya Danang Sutowijoyo telah dipilih dan direncanakan oleh Sunan Kalijogo, untuk di kemudian hari dapat menjadi raja di tanah jawa, sebagai wujud dari “eksistensi pemenuhan hak” dari trah Prabu Brawijoyo V Majapahit untuk bertahta di tanah jawa. Untuk dapat melihat hal tersebut, maka sangat tepat jika kita mengamati dari “faktor genotif atau keturunan “. Bahwa Ki Ageng Pemanahan adalah anak dari Ki Ageng Nis atau Ki Ageng Henis, kemudian Ki Ageng Nis adalah anak dari Ki Ageng Selo, yang terkenal dapat memegang kilat atau beledek. Kemudian Ki Ageng Selo adalah keturunan dari Bondan Kejawen, Bondan Kejawen adalah anak dari Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Selo bertempat tinggal di daerah Selo, yang saat ini termasuk wilayahdari Kabupaten Purwodadi (Jawa Tengah).

Pada masa mudanya, Joko Tingkir atau setelah menjadi Raja di Pajang dengan bergelar Sultan Hadiwijoyo pernah lama berguru kepada Ki AgengSelo di Selo-Purwodadi, oleh karena itu hubungan antara Joko Tingkir dengan Ki Ageng Pemanahan adalah sangat akrab seperti halnya kakak beradik. Bahkan Joko Tingkir menganggap Ki Ageng Pemanahan adalah sebagai kakaknya. Ikatan hubungan yang sangat akrab, diantara Joko Tingkir dengan Bagus Burham (Ki Ageng Pemanahan) tidak dapat terpisahkan dari hubungan “ persaudaraan dan cita-cita bersama“ dari seluruh keturunan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Hal tersebut yang akhirnyamembuat Sultan Hadiwijoyo memberikan hadiah berupa tanah perdikanhutan (alas) mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan, karena telah berjasa dalam membunuh Adipati Jipang Panolan yang bernama Aryo Penangsang. Dimana selanjutnya, hutan mentaok yang merupakan tanah perdikan tersebut, dikemudian hari menjadi sebuah kerajaan yang bernama Mataram. Mataram berasal dari kata Moto (mata) dan Arum (wangi) dengan pusat kerajaan di Kotagede. Danang Sutowijoyo setelah menjadi Raja Mataram di Kotagede bergelar Panembahan Senopati Ing Ngalogo Khalifatullah Syayiddin Panotogomo.

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria 



Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan

08129358989 - 08122908585


Kamis, 15 Juni 2017

Misteri Gunung Lawu dan Kisah Raja Terakhir Majapahit

Gunung lawu hingga kini masih  terselimuti sejuta misteri. Bahkan kisah misteri Gunung Lawu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki gunung tersebut disamping panorama alamnya yang indah. Sehingga gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar dan Magetan, Jawa Timur ini sudah cukup populer di kalangan para pendaki.

Gunung yang terkenal dengan julukan Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Pulau Jawa) pun kerap dikunjungi pendaki yang ingin berziarah maupun menggelar ritual di puncak Gunung Lawu meski suhu disana bisa mencapai minus lima derajat celcius.

Gunung Lawu konon termasuk paling angker dan menyimpan banyak cerita mengenai keberadaan Raja Majapahit yang terakhir Prabu Brawijaya V.

Bahkan gunung ini kerap menelan korban para pendaki yang tidak berhati-hati. terakhir pada 19 Oktober lalu di mana tujuh pendaki ditemukan tewas terbakar di Gunung Lawu

Hingga kini Gunung Lawu yang memiliki tiga puncak ini yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah diyakini dijaga oleh dua makhluk gaib yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.

Konon kedua penjaga ini tadinya adalah manusia biasa. Mereka adalah kepala dusun di sekitar kaki Gunung Lawu yang menemani Prabu Brawijaya V saat mengasingkan diri di gunung tersebut. Kisah keduanya diceritakan turun temurun oleh penduduk di sekitar kaki gunung tersebut.

Karena kesetiaannya saat menemani Prabu Brawijaya V, Dipa Menggala diangkat  menjadi penguasa Gunung Lawu membawahi semua mahluk gaib.

Wilayah kekuasaannya ke barat hingga Gunung Merapi, Merbabu; ke timur hingga Gunung Wilis; ke selatan hingga Pantai Selatan; ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Sementara Wangsa Menggala diangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kiai Jalak.

Sementara ketiga puncak gunung tersebut juga menjadi tempat yang dianggap sakral di Tanah Jawa. Puncak Hargo Dalem misalnya diyakini sebagai tempat moksa (menghilangnya) Prabu Brawijaya V setelah memeluk agama Islam.

Puncak Hargo Dumiling konon dipercaya sebagai tempat moksanya Ki Sabda Palon yang merupakan abdi setia dari Prabu Brawijaya V.
Sementara puncak Hargo Dumilah merupakan tempat meditasi bagi penganut kejawen.

Selain itu ada daerah yang warganya dipantang untuk mendaki Gunung Lawu yaitu Cepu Blora. Konon pantangan ini bermula saat Prabu Brawijaya V yang mengasingkan diri dikejar pasukan pimpinan Adipati Cepu yang bermaksud menangkapnya hidup atau mati.

Karena Prabu Brawijaya V merupakan musuh bebuyutan Adipati Cepu. Namun tak satu pun dari pasukan Cepu yang berhasil menangkap Prabu Brawijaya V yang mengasingkan diri ke arah puncak Gunung Lawu melalui hutan belantara.

Di puncak Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V mengeluarkan sumpah kepada Adipati Cepu yang konon isinya jika ada orang-orang dari daerah Cepu atau dari keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka nasibnya akan celaka atau mati di Gunung Lawu.


Lalu sumpah Prabu Brawijaya V ini sampai sekarang tuahnya masih diikuti oleh orang-orang dari daerah Cepu terutama keturunan Adipati Cepu yang ingin mendaki ke Gunung Lawu, mereka masih merasa takut jika melanggarnya.

Selain ketiga puncak yang sering dikunjungi pendaki ada dua tempat yakni yang Sendang Panguripan dan Drajat yang kerap didatangi para peziarah.

Sendang Panguripan diyakini memiliki kekuatan magis karena di sendang ini sumber airnya pernah dimanfaatkan oleh Prabu Brawijaya V ketika bersemedi di Gunung Lawu.

Sehingga para peziarah memanfaatkan air tersebut dengan ritual mandi karena dipercaya sangat berkhasiat. Ritual ini kerap dilakukan peziarah pada malam hari dengan suhu yang sangat dingin.

Sama seperti Sendang Panguripan di Sendang Drajat pun airnya sering dimanfaatkan oleh para peziarah dengan melakukan ritual. Konon airnya juga dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Sementara menurut cerita leluhur yang didapat dari Sardi salah satu pemilik warung di sekitar pos pendakian Cemoro Kandang, Gunung Lawu juga merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa.

Kegiatan itu berhubungan dengan tradisi dan budaya Keraton Solo dan Yogyakarta misalnya upacara labuhan setiap bulan Suro.

Sardi menjelaskan, setiap pendaki yang pernah naik ke puncak Lawu pasti memahami berbagai larangan tidak tertulis yang harus dipatuhi.

Misalnya ketika akan mendaki Gunung Lawu adalah dilarang berbicara sembarangan ketika sedang dalam perjalanan menuju puncak. Bila pantangan itu dilanggar si pendaki diyakini bakal bernasib nahas.

“Tidak boleh mengeluh capai, nanti tiba-tiba stamina kita akan mendadak menurun. Jika berkata dingin maka kita akan kedinginan,” jelasnya.

Seperti kebanyakan gunung yang ada di Indonesia yang kental dengan aura mistis, gunung Lawu memiliki pasar yang disebut pasar setan.

Yaitu pasar yang tak terlihat dengan kasat mata. Hanya terdengar suara ramai saja namun tidak semua orang bisa mendengarnya.

Pasar ini terletak di lereng Gunung Lawu dekat pos V yang biasa ditempuh lewat jalur Cemoro Kandang.

Karena jalur ini dipercaya sebagai jalur perlintasan ke alam gaib oleh para penjiarah dan pendaki yang ingin melakukan ritual.


Selain mendengar berbagai cerita mistik dari para pendaki yang istirahat di warung miliknya, Sardi juga pernah mengalami hal yang sama sewaktu mudanya dulu.

“Dulu saya pernah sekali mengalami. Makanya jika sedang mendaki dan mendengar suara berbahasa Jawa yang menanyakan ‘arep tuku apa mas’, [beli apa mas] segera saja buang uang berapa saja. Yang pasti buang di sekitar tempat di mana kita mendengar suaranya. Terus petik daun di sekitar tempat itu seperti kita sedang belanja,” ujarnya.

Kadang kala, kata Sardi juga muncul kupu-kupu berwarna hitam, namun di tengah kedua sayapnya terdapat bulatan besar berwarna biru mengkilap.

“Katanya jika melakukan pendakian, melihat kupu-kupu dengan ciri seperti itu adalah pertanda bahwa kehadiran pendaki  disambut baik [diizinkan] oleh penjaga Gunung Lawu.  Jangan pernah  menganggu, mengusir dan membunuhnya,” ungkapnya.

Yang paling penting, lanjut dia, adalah pantangan mengenakan baju berwarna  hijau daun, dan dilarang mendaki Puncak Lawu dengan rombongan yang berjumlah ganjil.

“Jangan naik puncak jika jumlah pendakinya ganjil,  takutnya nanti akan tertimpa kesialan. Satu hal lagi yang harus diingat, jika tiba-tiba ada ampak-ampak [kabut dingin] yang di barengi suara gemuruh, jangan nekat naik.  Turun saja atau berbaring tertelungkup di tanah,” timpalnya.

Disamping kaya dengan sejarah dan misteri Gunung Lawu juga kaya akan berbagai obyek wisata seperti Air Terjun Grojogan Sewu, Telaga Sarangan, Candi Cetho dan Candi Sukuh.

Jeng Asih, Ratu Pembuka Aura dari Gunung Muria 



Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan

08129358989 - 08122908585


Menelisik Dunia Alam Gaib dan Suasana Kehidupannya

D alam dunia ini sebenarnya memiliki tujuh macam alam ghaib dan kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Masing-masing alam dit...